Saturday, 20 October 2012

Sukrasana.... Sukrasana

Ingatan Saya lagi mengembara ke arah masa lampau. Dimana zaman radio panggil sedang jaya-jayanya, sebagai alat komunikasi atau hanya untuk sekedar obrolan ala warkop. Di desa Saya setiap radio panggil memiliki nama tersendiri, saat itu menggunakan nama tokoh wayang. Dan Bapak Saya memberi nama Sukrasana. Dari lamunan inilah Saya menulis tentang siapa tokoh wayang yang satu ini ??

Dalam dunia wayang Sukrasana muncul sebagai perlambang cinta manusia kepada saudaranya atau manusia kepada manusia lainnya hingga rela mati di tangan manusia yang sangat disayanginya. Ia putra Resi Suwandagni dari pertapaan Argasekar dengan permaisuri Dewi Darini, seorang Hapsari keturunan Bathara Sambujana, putra Sanghyang Sambo. Ia mempunyai seorang kakak bernama Sumantri, yang berwajah sangat jauh berbeda dengannya. Sukrasana tercipta dari ari- ari Sumantri. Hal inilah yang menyebabkan Sukrasana tidak dapat dipisahkan dari Sumantri. Ya, memang bayi tidak dapat hidup tanpa adanya ari-ari. Ari-arilah yang akan menyalurkan makanan dari tubuh sang ibu ke dalam tubuh bayi sehingga bayi dapat berkembang sebelum nantinya dilahirkan ke dunia yang ramai ini dengan segala kekurangan dan kelebihannya ini. Begitu pun sebaliknya, apalah artinya ari- ari tanpa bayi? Ari-ari menjadi tiada guna, serupa korek api tanpa adanya rokok yang bisa disulut. Sepi dan hampa rasanya hidup. Oleh karena itu jika Sumantri tidak berada di dekatnya, Sukrasana akan resah dan kebingungan mencari-cari kakaknya yang sangat disayanginya itu ke penjuru sudut dunia sampai Ia berhasil menemukan kakaknya.

Sukrasana sedari kecil sudah memiliki rupa dan perawakan raksasa kerdil (bajang). Sekujur tubuhnya disesaki dengan segala cacat dan keburukan. Oleh karena cacatnya itu, bayi Sukrasana tidak dikehendaki keberadaanya hingga dibuang ke hutan tempat dimana segala jin, setan, dan binatang buas bersemayam dengan harapan agar Sukrasana dimakan atau sekedar dibunuh oleh para penghuni hutan tersebut. Namun, seperti halnya yang terjadi pada seorang Gathotkaca saat dimasukkan kawah Candradimuka. Sukrasana ternyata tidak mati bahkan disentuhnya pun tidak, malahan ia berubah menjadi sakti mandraguna, hanya saja keadaan fisiknya masihlah sama. Apa yang menimpa Sukrasana itu dianggap sebagai tapa brata dan ia dianggap berhasil lulus dalam tapa brata yang dilakoninya, Dewata berkenan memberikan Ajian Candrabirawa kepadanya. Ajian yang diciptakan oleh Batara Guru yang bersumber dari seluruh kekuatan raksasa Alengka yang dahulu mati saat barisan prajurit raksasa Alengka di bawah pimpinan Kumbakarna tersebut menyerang Kahyangan Batara Indra. Apa hebatnya ajian ini??? Jika boleh saya samakan ajian ini mirip seribu bayangan ala Naruto. Jika Sukrasana merapal Ajian Candrabirawa, akan muncul seribu raksasa kerdil putih yang jika diserang justru akan bertambah banyak dan kuat. Selain ajian ini, Sukrasana juga bisa berjalan dan terbang di langit. Meskipun Sukrasana buruk rupa, hatinya suci dan luhur. Konon, darah Sukrasana berwarna putih seperti Puntadewa dan Begawan Bagaspati. Ketiga orang ini mempunyai sifat nrima yang keterlaluan, bahkan jika nyawanya diminta sekalipun, pasti akan diberikan.

Apa yang menjadi pekerti Sukrasana itu termasuk laku terpuji dan patut ditiru. Dan sudah sepantasnya Kita sebagai manusia menirunya. Ikatan batin dengan saudara, entah itu saudara sedarah atau bukan harus tetap dibina, karena manusia adalah makhluk yang pada dasarnya selalu membutuhkan manusia lainnya. Bila tiada manusia lainnya, kita akan merasa kesepian dan tiada tempat yang untuk menyalurkan segenap rasa yang ada di dalam dirinya.

Published with Blogger-droid v1.7.4

No comments:

Post a Comment