Pada tahun 1917 Ia bermain untuk
Paulistano dan merupakan awal dari karier yang luar
biasa, Ia berhasil menjadi pencetak terbanyak di Liga Sao Paolo. Friedenreich menduduki puncak pencetak
gol terbanyak di Liga São Paulo empat kali antara 1917 dan 1921. Ia berada di Paulistano sampai 1929, Ia berhasil meraih tujuh gelar kejuaran
Liga Brasil (Pada saat itu di
Brazil ada dua Liga jadi Paulistano berbagi juara dengan klub lain). Ia berhasil
membawa Paulistano menjadi tim Brasil pertama yang tur Eropa, dan 11
golnya dalam delapan pertandingan menyebabkan Ia menjadi bintang sepak bola kelas dunia. Friedenreich juga
mendapat kesempatan kedua untuk bermain di Coppa America, di Brasil pada tahun 1919. Hattricknya melengkapi kemenangan 6-0 dalam pertandingan pembukaan atas Chile,
dan membantu Brasil memuncaki klasmen bersama dengan Uruguay, hal ini membuat juara harus
ditentukan melalui play-off. Dan
pertandingan menjadi pertandingan
terlama dalam sejarah kejuaraan tersebut, pertandingan
tersebut membutuhkan empat periode tambahan
waktu 15 menit, sebelum
Friedenreich meraih sukses untuk Brasil dengan gol di menit 122, dan mengantarkan Brazil menjadi juara untuk pertama kalinya dan Ia
sendiri menjadi pencetak gol terbanyak dengan
empat golnya. Dia tidak dipanggil Timnas Brasil pada Coppa America 1921,
diduga karena pemerintah tidak ingin pemain kulit hitam untuk ikut serta. Protes atas perlakuan terhadapnya
menjadi titik balik dalam usaha
mengakhiri diskriminasi rasial dalam
sepak bola Amerika Selatan. Pada tahun 1922 dan 1925, Friedenreich kembali ikut ambil bagian di dua Coppa America. Pada tahun 1922, Brasil berhasil merebut gelar, tetapi Friedenreich tidak mencetak
gol dalam turnamen ini, bahkan Ia tidak bermain di
final. Pada tahun 1925, Ia bermain dalam pertandingan menentukan melawan Argentina. Dan Friedenreich membuka gol saat Brasil
melanjutkan untuk memimpin 2-0 pada akhir babak pertama. Argentina berhasil
meyamakan kedudukan menjadi 2-2 dan akhirnya
Argentina keluar sebagai Juara untuk kedua kalinya. Meskipun telah berusia
30 tahun, Friedenreich masih menjadi pencetak gol
yang produktif klub dan menjadi
pencetak gol terbanyak di liga Wilayah São Paulo pada tahun1927
dan 1929. Pada tahun 1930, untuk
pertama kalinya Piala Dunia diadakan,
meskipun Friedenreich berusia
hampir 38 th, dia masih dianggap sebagai calon kuat
untuk dipanggil masuk tim nasional Brasil. Namun, Faktanya Ia tidak dipanggil masuk timnas Brasil hal ini menimbulkan
kontroversi di Brasil. Beberapa orang
menyatakan bahwa Federasi Sepakbola
Brasil lebih menyukai pemain
yang berasal dari daerah Rio daripada
pemain dari daerah São Paulo.
Penampilan terakhir internasionalnya terjadi pada saat Brasil menang 3-2 atas Prancis tak lama setelah
berakhirnya Piala Dunia 1930,
tapi untuk tingkat klub karirnya
belum berakhir.
Sebagian besar karirnya dihabiskan dengan bermain bagi São Paulo FC. Antara 1930 dan 1935 Ia telah mencetak 106 gol untuk klub dalam 127 penampilan dan
ikut membantu memenangkan gelar
liga, dia hanya kehilangan satu
pertandingan di musim 1931. Karir Friedenreich berakhir setelah musim 1935,
dimana saat itu Ia berusia 43
tahun. Ada banyak pendapat tentang berapa banyak gol yang dicetak selama kariernya, dimana tidak
ada catatan yang akurat mengenai hal itu. Banyak sumber mengatakan bahwa Ia telah mencetak gol lebih dari 1.000, dan ada yang
mengatakan bahwa ia telah mencetak 1.329 gol. Beberapa sumber
menyatakan bahwa Ia adalah pencetak
gol tertinggi dalam sejarah sepakbola, dan yang lain memberinya tempat kedua setelah Pele.
Setelah menderita penyakit Alzheimer, Friedenreich meninggal pada September 1969, pada usia 77. Kontribusinya kepada sepakbola sebanding dengan jumlah
gol yang Ia cetak. Dia tercatat sebagai pemain pertama yang mencetak lebih dari 1000
gol dan Ia
juga telah menemukan tekhnik bermain
bola yang akan terus berkembang sampai sekarang. DanYang paling penting, karirnya membuka jalan bagi generasi masa depan pemain kulit hitam di Brasil, dan membantu untuk memecahkan masalah rasialisme
di Brasil dan seluruh dunia.
No comments:
Post a Comment